JAKARTA, DemokrasiNews.com - Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko akan siagakan aparat intelijennya dan alat tempur yang dimiliki TNI untuk mengantipasi kemungkinan adanya ancaman terkait dengan eksekusi terpidana mati, termasuk Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dari Australia.
Untuk memperkuat dukungan TNI, dirinya dan para komandan pasukan khusus akan membuat perencanaan yang detil bersama-sama Kejaksaan dan Kemenkum HAM. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila ada gangguan-gangguan yang bersifat fisik maupun non-fisik. “Pada hari ini kita akan menggelar rapat untuk membahas soal kemungkinan adanya ancaman,” tuturnya.
Unsur intelijen dan alat tempur, disiagakan setiap saat. Komandan satuan khusus juga harus bersiap-siap. “Setelah saya perintahkan hari ini para komandan satuan khusus sudah menyiapkan dirinya dengan baik,” ujarnya.
TNI, tidak terpengaruh oleh apa pun dan oleh siapa pun atas hukuman mati tersebut, karena sikap TNI jelas dalam memberikan dukungan penuh pada Presiden Jokowi untuk memberantas narkoba. “Kami sangat memahami risiko atas ‘lost generation’ ke depan di hadapan kita. Kita mendukung sepenuhnya kebijakan Presiden Jokowi dalam bentuk apapun, termasuk pemberian hukuman mati bagi terpidana kasus narkoba,” tegasnya.
Sebelumnya Perdana Menteri Australia Tony Abbott meminta Indonesia untuk mengingat kontribusi Australia yang diberikan, saat membantu bencana tsunami. Himbauannya itu diungkapkan agar Indonesia membatalkan eksekusi dua warga negaranya yang terlibat penyelundupan narkoba. (YY)










0 komentar:
Posting Komentar