KAB. BIREUEN (Aceh), DemokrasiNews.com – SDN 3 ini terletak di desa lhoksumawe, pesisir Kabupaten Bireuen, sedikit jauh dari pusat Kota Bireuen, dengan mayoritas siswanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Tidak banyak keistimewaan secara fisik dan juga tidak terlalu banyak siswanya, seperti sekolah dasar lainnya dalam Kabupaten Bireuen, hanya putra putri dari desa sekitar, yang bejumlah lebih kurang 200 siswa dari kelas 1 sampai 6, kendati demikian sesuatu yang menarik dari sekolah dasar negeri dipesisir ini, yaitu akan patriotisme dan nasionalismenya, meskipun berada sedikit jauh dari ibu kota kabupaten.
Semangat 28 Oktober, Sumpah Pemuda sebagaimana biasanya dilakukan Republik Indonesia sebagai pembakar semangat generasi muda, merupakan hari sakral bagi sekolah dasar yang berada ditengah masyarakat desa pesisir itu.
Adalah Roswati S.Pd, Kepala Sekolah tersebut, yang terus ingin bergerak maju, meskipun sekolah yang dipimpinnya berada dikampung.
"Sekolah kami memang sekolah kampung, dengan mayoritas siswa dari kampung, tapi semangat 28 Oktober dan hari-hari besar nasional lainnya selalu kami selenggarakan dalam bentuk upacara, renungan atau beragam acara lainnya yang selaras, meskipun tanpa intruksi tertulis dari Dinas. ini cara kami sebagai pembawa informasi dan penyadaran kepada anak didik untuk menjadi pribadi nasionalisme serta patriotisme. Masyarakat desa juga menyaksikannya," tutur Roswati S.Pd yang juga merupakan warga desa dimana sekolah tersebut berada.
Pantauan Demokrasi News pada hari itu, 28 Oktober 2015, upacara berlangsung khidmad, yang menjadi sebagai pembina upacara, salah satu guru sekolah itu, dalam amanatnya, beliau menyampaikan sejarah Sumpah Pemuda dan tugas generasi muda sebagai pengisi kemerdekaan.
"Kita dan anak-anak kami sekalian sebagai generasi yang mempunyai kewajiban mencintai Bahasa, Bangsa, dan tanah air indonesia. Karena Tanpa perjuangan para pendahulu, Kenyamanan menuntut ilmu seperti hari ini mungkin tidak ada. Semangat28 sebagai momentum penyemangat kita untuk tidak lagi bermalas-malasan terutama dalam belajar," paparnya di hadapan siswanya dalam arena upacara dihalaman sekolah itu. (EWIN)
Semangat 28 Oktober, Sumpah Pemuda sebagaimana biasanya dilakukan Republik Indonesia sebagai pembakar semangat generasi muda, merupakan hari sakral bagi sekolah dasar yang berada ditengah masyarakat desa pesisir itu.
Adalah Roswati S.Pd, Kepala Sekolah tersebut, yang terus ingin bergerak maju, meskipun sekolah yang dipimpinnya berada dikampung.
"Sekolah kami memang sekolah kampung, dengan mayoritas siswa dari kampung, tapi semangat 28 Oktober dan hari-hari besar nasional lainnya selalu kami selenggarakan dalam bentuk upacara, renungan atau beragam acara lainnya yang selaras, meskipun tanpa intruksi tertulis dari Dinas. ini cara kami sebagai pembawa informasi dan penyadaran kepada anak didik untuk menjadi pribadi nasionalisme serta patriotisme. Masyarakat desa juga menyaksikannya," tutur Roswati S.Pd yang juga merupakan warga desa dimana sekolah tersebut berada.
Pantauan Demokrasi News pada hari itu, 28 Oktober 2015, upacara berlangsung khidmad, yang menjadi sebagai pembina upacara, salah satu guru sekolah itu, dalam amanatnya, beliau menyampaikan sejarah Sumpah Pemuda dan tugas generasi muda sebagai pengisi kemerdekaan.
"Kita dan anak-anak kami sekalian sebagai generasi yang mempunyai kewajiban mencintai Bahasa, Bangsa, dan tanah air indonesia. Karena Tanpa perjuangan para pendahulu, Kenyamanan menuntut ilmu seperti hari ini mungkin tidak ada. Semangat28 sebagai momentum penyemangat kita untuk tidak lagi bermalas-malasan terutama dalam belajar," paparnya di hadapan siswanya dalam arena upacara dihalaman sekolah itu. (EWIN)










0 komentar:
Posting Komentar