JAKARTA, DemokrasiNews.com - Banyaknya isu negatif, seperti isu SARA yang bermuncul saat jelang pelaksanaan Pilkada secara serentak di negara ini, berefek negatif terhadap masyarakat Indonesia itu sendiri, sebab isu SARA membuat perpecahan dan pertikaian di tingkat Horisontal bangsa ini, sehingga sesama masyarakat Indonesia saling berkonflik berkepanjangan.
Menanggapi hal ini, sekelompok cendikiawan dan tokoh mengadakan Diskusi dengan Tema "Pilkada Sehat dan Cerdas Tanpa SARA” di Cafe Deli jl. Sunda no.7 Menteng Jakarta, Kamis (15/09/2016), guna memberi efek pendidikan pollitik yang baik bagi rakyat Indonesia,
Ray Rangkuti dari Lima Indonesia mengatakan, "Dalam menjatuhkan lawan politik khususnya dalam Pilkada DKI Jakarta, marak isu SARA, harusnya isu SARA sudah ditinggalkan, selain bertentangan dengan konstitusi dan nafas demokrasi, isu SARA berpotensi menuai konflik," ujarnya.
Ray Rangkuti menambahkan, "Pilkada di DKI Jakarta harus berjalan dengan cerdas, karena itu kita harus menolak unsur-unsur agama yang akan menimbulkan konflik dan kondisi yang tidak kondusif terhadap negara," tuturnya.
Turut hadir juga nara sumber :
1. Masykurudin Hafidz (JPPR)
2. Sebastian Salang (Formappi)
3. Dr. Rumadi (Lakpesdam)
4. Dr. Iryanto Djou (Apsirasi Indonesia)
5. Ray Rangkuti (Lima Indonesi).
Dr. Iryanto Djou dari Aspirasi Indonesia menambahkan, "Demokrasi kita telah diciderai oleh politik isu SARA yang berkembang dalam Pilkada, apakah sejak dahulu isu pemimpin tidak boleh dari non muslim sudah ada, ini sudah menjadi isu nasional, bahkan para juru kampanye sering menggunakan isu SARA, masih banyak politisi menganggap isu SARA adalah hal yang seksi untuk kampanye, hal ini membuat saya prihatin, dimanakah wawasan kebangsaan dan kenegarawanan politisi tersebut," tandasnya. (LJ044/Singgih)










0 komentar:
Posting Komentar