DEMOKRASI NEWS
DEMOKRASI NEWS
DEMOKRASI NEWS

BERITA UTAMA

Daerah pemekaran miskin perlu dilebur ke daerah asal

Written By admin on Selasa, 12 Agustus 2014 | 11.47



Jakarta, DemokrasiNews.com - Besarnya alokasi belanja pegawai saban tahun, menurut Kementerian Keuangan, turut dipicu maraknya pemakaran wilayah. Banyak kabupaten/kota menghabiskan separuh lebih APBD hanya buat menggaji PNS.

Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro melihatnya sebagai risiko bawaan dari sebuah aksi pemekaran. "Namanya pemerintah baru, yang dibutuhkan pertama kali pasti pegawai," ujarnya di Manado, Sulawesi Utara, Selasa (12/8).

Persoalannya, dasar pengangkatan pegawai di level pemerintahan dati II tidak terlalu jelas. Pemerintah pusat yang kini tak bisa mengintervensi prosesnya mempertanyakan situasi tersebut. "Pertanyaannya apa betul ita membutuhkan pegawai sebanyak itu," kata Bambang. "Buat apa kita membuat pemerintahan tapi tidak punya makna terhadap masyarakat".

Tradisi APBD yang tak banyak digelontorkan buat infrastruktur atau belanja produktif lainnya lama-lama akan membuat masyarakat jengah. Oleh sebab itu, Wamenkeu menyarankan Kementerian Dalam Negeri bersikap tegas. Bukan cuma menggelar moratorium pemekaran daerah. Tapi harus ada disinsentif bagi daerah yang Pendapatan Asli Daerah-nya tidak berkembang selama sekian periode.
Demikian pula saat indeks pembangunan manusia di kawasan hasil pemekaran terbukti gagal membaik dibanding saat masih menginduk pada daerah asal.

"Misalnya setelah 5-10 tahun tidak perform harusnya dia digabung kembali ke daerah induknya. Harus ada skala ekonominya. Wilayah terlalu kecil jangan dipaksakan otonom," kata mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

Dalam 13 tahun terakhir dana transfer daerah meningkat tajam. Dari Rp 81 triliun di 2001, tahun lalu sudah mencapai Rp 591 triliun. Masalahnya, Kementerian Keuangan mencatat nmayoritas kabupaten/kota menghabiskan 40 persen porsi belanja APBD buat menggaji PNS. Imbasnya, daya saing ekonomi wilayah tersebut, terutama di kawasan timur Indonesia menjadi rendah.


Sumber: Merdeka.com

0 komentar:

Posting Komentar

DEMOKRASI NEWS
DEMOKRASI NEWS
DEMOKRASI NEWS