Jakarta, DemokrasiNews.com - Peneliti Institute for Development of Economics
and Finance (INDEF), Fadhil Hasan mengingatkan pemerintah Jokowi-JK
tidak lupa mengenai janji-janjinya. Fadhil tidak mau program Jokowi-JK
hanya habis dipembicaraan seperti halnya pemerintahan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono.
Menurut Fadhi, salah satu program yang hanya dibicarakan SBY namun
belum berhasil adalah masalah diversifikasi dan konversi energi. Ini
hanya menjadi wacana yang ramai dibicarakan sejak lama namun tak kunjung
terwujud.
"Kita berharap pemerintahan baru tidak seperti sebelumnya, yang
programnya lebih banyak dibicarakan daripada dijalankan," kata Fadhil
dalam diskusi INDEF di Pejaten, Jakarta, Rabu (27/8).
Jokowi disarankan terus mendorong dan merespon kondisi sektor energi
Indonesia. Indonesia tidak bisa terus bertumpu pada hasil minyak.
Cadangan energi minyak di Indonesia diperkirakan hanya mampu bertahan 14
tahun ke depan.
Langkah diversifikasi dan konversi energi secara jelas sangat
dibutuhkan saat ini guna menjamin ketersediaan energi dalam negeri.
"Kalau habis, pastinya kita akan impor. Dan kita bisa menjadi nett
importer energi kalau cadangan energi dalam negeri habis," tegasnya.
Diversifikasi sumber energi dan konversi atau mengalihkan ke sumber
energi baru seperti gas dan bahan bakar nabati, dapat mendorong
penghematan anggaran untuk penyediaan energi secara nasional.
"Contohnya, kalau pakai gas ini sangat murah, sehingga pemerintah enggak
perlu mensubsidinya seperti BBM," katanya.
Sumber: M.com










0 komentar:
Posting Komentar