Jakarta, DemokrasiNews.com - Nama Sekretaris Jenderal Partai Demokrat (PD), Edhie Baskoro Yudhoyono,
kembali disebut-sebut dalam sidang dugaan suap dengan terdakwa mantan
Ketum PD, Anas Urbaningrum. Pria yang akrab Ibas itu disebut menerima
sejumlah dana saat Kongres PD 2010 lalu.
Putra bungsu Presiden SBY itu angkat bicara terkait hal itu. Menurutnya, kesaksian eks Bendum PD, Nazaruddin, dan ajudannya, Wahyudi Utomo alias Iwan, di Pengadilan Tipikor adalah fitnah. Dia pun menilai tuduhan itu sama seperti yang sebelumnya.
"Dengan tegas saya sampaikan itu semua tidak benar, seribu persen ngawur dan fitnah. Saya dituduh menerima sejumlah uang di ruang kerja DPR dan di Ciasem. Kesaksiannya saja berbeda-beda, ini sudah menunjukkan pola ngawur, mungkin besok-besok saya akan dituduh menerima di tempat lain lagi. Ini jelas fitnah dan bohong lagi," tegas Ibas dalam rilisnya yang diterima merdeka.com, Sabtu (30/8).
Ibas menilai Nazaruddin sudah keterlaluan saat menyampaikan informasi tentang dirinya. "Lama-lama saudara Nazaruddin becandanya sudah keterlaluan, jika benar dia sengaja membuat Berita teror seperti ini," tambah ayah anak satu ini.
Dia juga yakin penyebutan namanya hanya sebuah rekayasa untuk menyeretnya dalam kasus ini.
"Sama saja seperti Yulianis, semua bisa mencatat, semua bisa bicara, semua bisa membuat cerita. Tapi kalau ini berulang-ulang dengan isu yang ini-ini lagi tanpa bukti hukum yang jelas, maka terlihat jelas pola ngawurnya," kata Ibas.
Ditambahkan Ketua Departemen DPP Partai Demokrat, Didik Mukrianto, keterangan para tersangka Korupsi yang mengkait-kaitkan nama Ibas bentuk sikap iri hari dengan jabatan strategis Ibas di partai sebagai Sekretaris Jenderal Partai Demokrat.
"Saya melihat nama Mas Ibas seksi kali ya. Mungkin karena dia sekjen, dia anak presiden dan dia masih muda. Banyak yang mungkin iri, sehingga mencoba membuat persepsi negatif di media luas seperti ini. Padahal tidak kurang dia jawab dengan tegas, tidak benar dan fitnah," klaim Didik.
Sebelumnya, dalam sidang Anas, Nazar menyebut Ibas menerima uang USD 200 ribu saat Kongres Demokrat 2010 lalu. "Soal Mas Ibas itu, yang dibilang Yulianis itu betul. Yang USD 200 ribu," kata Nazar, Kamis lalu.
Nazar juga membeberkan lokasi serah terima uang dari Grup Permai pada Ibas. "Di kamar Mas Ibas di DPR RI," sambung Nazaruddin.
Saksi lain pun mengatakan hal yang sama. Wahyudi Utomo alias Iwan, mantan ajudan Nazaruddin, mengaku pernah mengantarkan sejumlah uang dalam tas kertas buat Ibas. Tetapi, dia tidak menjelaskan secara rinci berapa jumlah duit itu dan dalam kaitan apa fulus diberikan kepada keduanya.
"Pernah. Ada dua paper bag batik itu. Itu dua kejadian. Yang satu ke Pak Andi, yang satu ke Mas Ibas. Saya kasih di ruangannya," kata Iwan.
Sumber: M.com










0 komentar:
Posting Komentar