![]() | |
| Aaron Y Zelin Washington Institute for Near East Policy |
Jakarta, DemokrasiNews.com
Tanggal
5 Juli 2014, Abu Bakr al-Baghdadi, yang dikenal di antara para
pendukungnya sebagai Khalifah Ibrahim, untuk pertama kalinya
memperlihatkan wajahnya pada khotbah hari Jumat di Mosul, Irak.
Sebelumnya
beberapa fotonya memang dibocorkan, tetapi Baghdadi sendiri tidak
tampil di muka umum selama empat tahun sejak menjadi pemimpin kelompok
yang sebelumnya bernama Negara Islami Jihadis Irak, nama sebelum ISIS,
yang sekarang menjadi Negara Islami.
Sebelum April 2013, Baghdadi
juga tidak terlalu banyak mengeluarkan pesan audio. Pernyataan tertulis
pertamanya adalah sambutannya terhadap tewasnya Osama Bin Laden pada
bulan Mei 2011.
Pesan audio pertamanya dikeluarkan bulan Juli
2012, berisi ramalan kemenangan Negara Islam di masa depan. Sejak
kemunculan kelompok tersebut, 15 bulan lalu, informasi tentang Baghdadi
yang disediakan untuk media meningkat.
Jumlah informasi khusus tentang latar belakangnya juga bertambah.
Keturunan Nabi Muhammad
Bulan
Juli 2013, ahli ideologi asal Bahrain, Turki al-Binali, yang
menggunakan nama Abu Humam Bakr bin Abd al-Aziz al-Athari, menulis
biografi Baghdadi terutama untuk menggarisbawahi sejarah keluarga
Baghdadi.
Dia menyatakan Baghdadi memang keturunan Nabi Muhammad,
salah satu persyaratan kunci dalam sejarah Islam untuk menjadi khalifah
atau pemimpin semua warga Muslim.
Sebelumnya tidak begitu banyak foto Baghdadi yang beredar.
Baghdadi
dikatakan berasal dari suku al-Bu Badri, yang sebagian besar berada di
Samarra dan Diyala, Baghdad utara dan timur, dan secara historis
penduduknya dikenal sebagai keturunan Muhammad.
Turki al-Binali
kemudian menyebut bahwa sebelum invasi Amerika Serikat terhadap Irak,
Baghdadi menerima gelar doktor dari Universitas Islamis Baghdad, yang
memusatkan kajian pada kebudayaan, sejarah, hukum dan jurisprudensi
Islam.
Baghdadi sempat berkhotbah di Masjid Imam Ahmad ibn Hanbal di Samarra.
Dia
memang tidak memiliki gelar dari lembaga keagamaan Sunni seperti
Universitas al-Azhar di Kairo atau Universitas Islami Madinah di Arab
Saudi.
Meskipun demikian dia lebih memiliki pengalaman pendidikan
Islam tradisional dibandingkan pemimpin al-Qaida, Osama Bin Laden dan
Aymen al-Zawahiri, yang keduanya adalah orang biasa, insinyur dan
dokter.
Karena itulah Baghdadi menerima pujian dan legitimasi yang lebih tinggi di antara pendukungnya.
Menjadi Pemimpin
Setelah
invasi AS terhadap Irak di tahun 2003, Baghdadi dan beberapa rekannya
mendirikan Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ), Angkatan
Bersenjata Kelompok Warga Sunni, yang beroperasi dari Samarra, Diyala,
dan Baghdad.
Negara Islam berusaha menguasai daerah kaya
minyak di Irak dan Suriah. Di dalam kelompok ini, Baghdadi menjadi
pemimpin dewan hukum. Pasukan pimpinan AS menahannya dari bulan
Februari-Desember 2004, tetapi membebaskannya karena Baghdadi tidak
dianggap sebagai ancaman tingkat tinggi.
Mengikuti jejak al-Qaida
di Tanah Dua Sungai mengubah nama menjadi Majlis Shura al-Mujahidin
(Dewan Syura Mujahidin) pada permulaan tahun 2006, pimpinan JJASJ
menyatakan dukunganya dan penggabungan diri.
Di dalam struktur baru, Baghdadi bergabung dalam dewan hukum.
Tetapi
tidak lama kemudian organisasi mengumumkan perubahan nama kembali di
akhir tahun 2006 menjadi Negara Islam Irak (ISI) Baghdadi menjadi
pengurus umum dewan hukum provinsi di dalam "negara" baru disamping
anggota dewan penasehat senior ISI.
Ketika pimpinan ISI, Abu Umar al-Baghdadi, meninggal pada April 2010, Abu Bakr al-Baghdadi menggantikannya.
Tokoh Sejarah?
Sejak
menjadi pemimpin Negara Islam, Baghdadi membangun dan membangkitkan
kembali organisasi yang berantakan karena kebangkitan kesukuan Sunni
yang menolaknya sementara di saat yang sama kekuatan militer AS juga
meningkat.
Dibandingkan dengan usaha pertama Negara Islam untuk
berkuasa dalam sepuluh tahun terakhir, sampai sejauh ini, walaupun masih
menggunakan kekerasan, mereka dipandang lebih berhasil meskipun tetap
timbul pertanyaan tentang kelangsungannya dalam jangka panjang.
Keberhasilan
ini sebagian karena mereka menggabungkan penerapan hukum keras dengan
layanan sosial, di samping juga strategi pemberian umpan.
Jika
ditelaah, Negara Islami menargetkan wilayah di sepanjang Sungai Efrat
dan Tigris di samping daerah yang memiliki minyak di Irak dan Suriah.
Baghdadi
dan pemimpin Negara Islami lain menyadari monopoli atas energi dan
peningkatan kekuatan militer akan memudahkan penghimpunan kekuatan.
Tidak
bisa diramalkan secara persis nasib Negara Islam di masa mendatang,
tetapi Baghdadi jelas membuat organisasinya menjadi lebih dikenal dunia. (nwk/nwk)
Sumber: detiknews.com










0 komentar:
Posting Komentar