Jakarta, DemokrasiNews.com - Dengan alasan
banyak menimbulkan kemudaratan, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
mendorong agar pilkada diserahkan kembali ke DPRD dan tak dipilih
langsung masyarakat.
Ketua Fraksi PKB Marwan Jafar mengatakan, dari sejumlah masukan dari
masyarakat di daerah, banyak masalah timbul akibat adanya pemilu kepala
daerah yang dilakukan secara langsung.
"Sering timbul konflik horisontal. Kita juga lihat kebanyakan
pemilukada ini berujung di MK," kata Marwan pada diskusi Publik dengan
tema "Mahalnya Ongkos Politik", di Ruang Fraksi PKB, Jakarta.
Sebagai contoh, di Pilkada Jawa Timur, konflik horisontal terjadi
dengan mudahnya karena justru menimbulkan perpecahan antarwarga
masyarakat. Di Jatim bahkan sangat menyedihkan, kata dia, dimana
antarkeluarga berkonflik dan antarkyai tak baik komunikasinya.
"Makanya Pilkada langsung ini tidak bagus," ujarnya.
Selain itu, Marwan menyatakan pemilukada juga menghabiskan biaya
besar. Sebagai contoh, sebuah pemilukada di Jombang, Jawa Timur, yang
dilakukan pada tahun ini, salah satu calon mengaku harus menghabiskan
biaya sebesar Rp40 miliar.
"Bagaimana mengembalikan dananya itu kalau tidak korupsi? Padahal Jombang sumber daya alamnya tidak ada," kata Marwan.
Masyarakat juga masih kurang bijaksana dalam memahami demokrasi
sehinga bisa menerima praktik money politics. Tingkat pendidikan
masyarakat yang masih sangat rendah juga mendorong hal itu.
Karena itu, PKB mendorong agar kepala daerah dipilih oleh DPRD. Dengan demikian, jika ada money politic dalam prosesnya, tentu dengan mudah diketahui.
"Kalau mau itu dikembalikan ke DPRD, kalau ada money politic tentu akan ketahuan karena terorganisir," jelas Marwan.
Sumber: BS.com










1 komentar:
Saya setuju..
Selain mencegah konflik dan korupsi, pilkada jg menghemat anggaran
Posting Komentar