Opini, DemokrasiNews.com
Oleh : Drs.Darmawan, MT (Pengawas sekolah / mantan kepala SMK Negeri 1 Bireun-Aceh).
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata, yaitu Manajemen, Berbasis, dan sekolah. Manajemen Adalah peroses Menggunakan sumber Daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Berbasis memiliki kata dasar Basis yang berarti dasar atau asas. Sekolah Adalah lebaga untuk belajar Mengajar dan Mengajar serta tempat menerima dan Memberi pelajaran.
Berdasarkan Hal tersebut maka Manajemen Berbasis sekolah Dapat Diartikan sebagai Sebagai penggunaan sumber daya yang Berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam peroses pengajaran atau Pembelajaran.
Akan tetapi walaupun pada Manajemen Berbasis Sekolah Kekuasaan penuh ada pada sekolah secara individual, dalam peroses pengambilan keputusan sekolah tidak boleh berada di satu tangan saja.
Sangat baik sekali jika Pengambilan keputusan sekolah mengikutkan partisipasi dari berbagai pihak baik internal, eksternal, maupun jajaran birokrasi sebagai pendukung. Dalam pengambilan keputusan harus dilaksanakan secara kolektif di antara stake- holder sekolah.
Jadi di butuhkan seorang kepala sekolah sebagai pimpinan yang berkualitas yang mampu, berkomunikasi, memberi Arahan, memotivasi dan semangat kepada warga sekolah agar mereka semua dapat dan mau bekerja yang lebih terarah serta lebih Baik.
Dalam kondisi nyata tidak semua kepala sekolah dapat menyadari bahwa manajemen berbasis sekolah ini sangat di perlukan untuk mengelola sekolah dengan baik, Ditambah lagi selama otonomi Daerah sering para pejabat dalam menempatkan seorang KEPALA SEKOLAH bukan berdasarkan kemampuan maupun memperhatikan perestasi dari pada kepala sekolah tersebut. Sehingga dalam mengelola sekolah kurang mampu menerapkan Manajemen yang baik. Dan kurang mampu Mengambil Keputusan yang tepat dalam setiap kendala maupun persoalan yang timbul pada suatu sekolah yang dia pimpin.
Dalam manajemen sekolah model MBS ini berarti tugas tugas manejemen sekolah ditetapkan menurut karakteristik karakteristik dan kebutuhan kebutuhan sekolah itu sendiri . oleh karena itu, warga sekolah memiliki otonomi dan tanggung jawab yang lebih besar atas penggunaan sumber daya sekolah guna memecahkan masalah masalah sekolah dan menyelenggarakan aktivitas pendidikan yang efektif demi perkembangan jangka sekolah.
Dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekolah tersebut dan kepala mengarahkan , memotivasi dan memberi semangat untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah, misalnya : masalah Narkoba, perkelahian, demontrasi, tawuran dan lain lain yang sering muncul di dalam lingkungan sekolah , menuntut kemampuan sekolah untuk Memecahkannya.
Menarik sekali seperti yang diberitakan pada Tabloid MODUS ACEH No 41 /TH XII Edisi 26 Januari 1 Pebruari 2015. Diberitakan Sebuah sekolah , siswa nya mendemo kepala sekolah nya terkait Pengutipan Dana BOS, kemudian dikaitkan lagi ada Penyetoran dana BOS itu ke Dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Bireuen. Masalah seperti ini seharus nya tidak terjadi jika dilaksanakan Manajemen berbasis sekolah, karena pada MBS tersebut semua kebijakan adalah suatu kebijakan yang di sepakati bersama.
Kenapa terjadi Demo itu ? karena mungkin ada kebijakan yang tidak di sepakati bahkan mungkin tidak diketahui oleh warga Sekolah Maupun oleh wali siswa. Disinilah di perlukan seorang pimpinan di sekolah tersebut yang mampu mengkomunikasikan Dan menjelaskan kebijakan kebijakan di sekolah tersebut. Jadi kewenangan tingkat sekolah itu lebih besar.
Kewenangan yang berada pada tingkat sekolah memiliki beberapa keuntungan , seperti :
1. Kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada siswa, orang tua dan
Berdasarkan Hal tersebut maka Manajemen Berbasis sekolah Dapat Diartikan sebagai Sebagai penggunaan sumber daya yang Berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam peroses pengajaran atau Pembelajaran.
Akan tetapi walaupun pada Manajemen Berbasis Sekolah Kekuasaan penuh ada pada sekolah secara individual, dalam peroses pengambilan keputusan sekolah tidak boleh berada di satu tangan saja.
Sangat baik sekali jika Pengambilan keputusan sekolah mengikutkan partisipasi dari berbagai pihak baik internal, eksternal, maupun jajaran birokrasi sebagai pendukung. Dalam pengambilan keputusan harus dilaksanakan secara kolektif di antara stake- holder sekolah.
Jadi di butuhkan seorang kepala sekolah sebagai pimpinan yang berkualitas yang mampu, berkomunikasi, memberi Arahan, memotivasi dan semangat kepada warga sekolah agar mereka semua dapat dan mau bekerja yang lebih terarah serta lebih Baik.
Dalam kondisi nyata tidak semua kepala sekolah dapat menyadari bahwa manajemen berbasis sekolah ini sangat di perlukan untuk mengelola sekolah dengan baik, Ditambah lagi selama otonomi Daerah sering para pejabat dalam menempatkan seorang KEPALA SEKOLAH bukan berdasarkan kemampuan maupun memperhatikan perestasi dari pada kepala sekolah tersebut. Sehingga dalam mengelola sekolah kurang mampu menerapkan Manajemen yang baik. Dan kurang mampu Mengambil Keputusan yang tepat dalam setiap kendala maupun persoalan yang timbul pada suatu sekolah yang dia pimpin.
Dalam manajemen sekolah model MBS ini berarti tugas tugas manejemen sekolah ditetapkan menurut karakteristik karakteristik dan kebutuhan kebutuhan sekolah itu sendiri . oleh karena itu, warga sekolah memiliki otonomi dan tanggung jawab yang lebih besar atas penggunaan sumber daya sekolah guna memecahkan masalah masalah sekolah dan menyelenggarakan aktivitas pendidikan yang efektif demi perkembangan jangka sekolah.
Dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekolah tersebut dan kepala mengarahkan , memotivasi dan memberi semangat untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah, misalnya : masalah Narkoba, perkelahian, demontrasi, tawuran dan lain lain yang sering muncul di dalam lingkungan sekolah , menuntut kemampuan sekolah untuk Memecahkannya.
Menarik sekali seperti yang diberitakan pada Tabloid MODUS ACEH No 41 /TH XII Edisi 26 Januari 1 Pebruari 2015. Diberitakan Sebuah sekolah , siswa nya mendemo kepala sekolah nya terkait Pengutipan Dana BOS, kemudian dikaitkan lagi ada Penyetoran dana BOS itu ke Dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Bireuen. Masalah seperti ini seharus nya tidak terjadi jika dilaksanakan Manajemen berbasis sekolah, karena pada MBS tersebut semua kebijakan adalah suatu kebijakan yang di sepakati bersama.
Kenapa terjadi Demo itu ? karena mungkin ada kebijakan yang tidak di sepakati bahkan mungkin tidak diketahui oleh warga Sekolah Maupun oleh wali siswa. Disinilah di perlukan seorang pimpinan di sekolah tersebut yang mampu mengkomunikasikan Dan menjelaskan kebijakan kebijakan di sekolah tersebut. Jadi kewenangan tingkat sekolah itu lebih besar.
Kewenangan yang berada pada tingkat sekolah memiliki beberapa keuntungan , seperti :
1. Kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada siswa, orang tua dan
guru.
2. Bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di sekolah .
3. Efektif dalam pembinaan kesiswaan seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan,
2. Bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di sekolah .
3. Efektif dalam pembinaan kesiswaan seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan,
tingkat putus sekolah, moral guru dan iklim sekolah.
4. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan , memberdayaankan guru, manajemen
4. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan , memberdayaankan guru, manajemen
sekolah, rancang ulang sekolah dan perubahan perencanaan.
Dengan demikian semua permasalahan di sekolah tersebut dapat diatas secara bersama, mereka semua memahami apapun yang terjadi di sekolah, tidak saling curiga, tidak mau menang sendiri, merasa bersama untuk mengantisipasi permasalahan, sehingga diharapkan tidak ada TAWURAN, DEMO, Dan mengantisipasi penyalah gunaan NARKOBA, dan lain lain yang merugikan sekolah dan kita semuanya, karena semuanya aktif dan berpartisipasi menunggulangi permasalahannya.
Dengan pengambilan keputusan partisipatif maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat, Meningkatnya rasa memiliki akan meningkatkan rasa tanggung jawab yang selanjutnya meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. Peningkatan otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif ditujukan untuk meningkatkan KUALITSAS SEKOLAH
Semoga dengan menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah diharapkan Dapat mengantisipasi semua permasalahan yang ada di suatu sekolah, sehingga Pendidikan kita dapat lebih Maju dan Berkualitas, Amin.
Dengan demikian semua permasalahan di sekolah tersebut dapat diatas secara bersama, mereka semua memahami apapun yang terjadi di sekolah, tidak saling curiga, tidak mau menang sendiri, merasa bersama untuk mengantisipasi permasalahan, sehingga diharapkan tidak ada TAWURAN, DEMO, Dan mengantisipasi penyalah gunaan NARKOBA, dan lain lain yang merugikan sekolah dan kita semuanya, karena semuanya aktif dan berpartisipasi menunggulangi permasalahannya.
Dengan pengambilan keputusan partisipatif maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat, Meningkatnya rasa memiliki akan meningkatkan rasa tanggung jawab yang selanjutnya meningkatkan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya. Peningkatan otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif ditujukan untuk meningkatkan KUALITSAS SEKOLAH
Semoga dengan menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah diharapkan Dapat mengantisipasi semua permasalahan yang ada di suatu sekolah, sehingga Pendidikan kita dapat lebih Maju dan Berkualitas, Amin.










0 komentar:
Posting Komentar