Opini, DemokrasiNews.com
Oleh : DEDDI (Ka. Biro DemokrasiNews Kab. Bireuen-Aceh)
Anak-anak perlu di didik mengalami hidup susah. Mereka perlu mengalami keadan serba kurang. Mereka harus mampu membedakan keadaan paceklik dan pada saat berkelebihan.
Bagi anak desa terasa beda musim paceklik dan musim panen. Anak-anak kota nyaris tidak bisa merasakan. Anak-anak yang terbiasa mengalami kesusahan akan menjadi pembelajar kehidupan. Mereka perlu mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi orang susah dan kekurangan.
Dalam praktik, mereka yang tahan banting, lebih terampil menghadapi hidup susah. Anak-anak yang terbiasa hidup susah lebih terampil menghadapi masalah-masalah pelik sepanjang hidupnya. Hidup susah adalah tempaan mental. Saat ini tidak banyak orangtua yang menyadari pentingnya menanamkan nilai-nilai semacam itu. Anak-anak digelontor segala macam kebutuhan hingga tidak mampu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Permintaan anak yang selalu dipenuhi membuat anak beranggapan orangtua selalu berkecukupan.
Sekolah minim sekali menyiapkan anak didiknya menghadapi situasi yang sulit seperti itu. Penugasan dari guru mengandaikan anak mudah memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan. Untuk itu, anak-anak membutuhkan “pelatihan” menghadapi situasi seperti itu.
Ada banyak cara menyiapkan anak-anak belajar hidup susah. Sejak kecil anak perlu diajak untuk melihat dan memahami realitas kehidupan pahit. Yang terlahir dari keluarga berkelebihan, tidak semua permintaan anak harus diberi. Malahan, mereka perlu diajar bagaimana rasanya kekurangan dan menderita.
Yang kami lakukan dalam pelatihan forum anak di sebuah kabupaten, mereka kami minta untuk ke pasar dan setiap anak harus bergabung dengan salah satu penjual di pasar untuk membantu berdagang. Kurang lebih 3 jam mereka ikut berjualan. Ada yang ikut jualan pisang, pepaya, ketela, pakaian, beras bahkan ada cuci piring di warung bakso. Semua diminta untuk mendapatkan upah dari pekerjaan yang mereka lakukan.
Di refleksi akhir kegiatan semua peserta melaporkan ada yang mendapat uang Rp 15.000, Rp 40.000, bahkan ada yang Rp 100.000, dan diberi oleh-oleh berupa makanan. Yang menarik, anak-anak ini belajar menghargai uang dan mengatakan susahnya mencari uang. Selama ini, mereka tinggal minta kepada orangtua. Namun, ketika harus bekerja dan mencari sendiri mereka merasakan bagaimana susahnya mencari uang. Mereka, pun berterima kasih kepada orangtua mereka yang susah payah mencari uang.
Tidak pada tempatnya anak di didik menjadi pemimpi lepas dari kesusahan. Angan-angan hidup berkecukupan seperti digambarkan televisi sering menjerumuskan. Bukannya mereka tidak mampu mencapainya. Demi mengubah diri keluar dari kesusahan yang dihadapi perlu kerja keras. Celakanya, kebanyakan orangtua justru mengatakan jangan sampai anak mereka mengalami kesusahan seperti halnya orangtuanya pada masa lalu.
Demi membalas dendam masa lalu anak justru dimanjakan. Segala permintaan dipenuhi. Dalam pemahaman orangtua, jika segala kebutuhan dipenuhi akan lebih baik. Namun, kenyataan tidak demikian. Banyak orangtua justru sengsara dan terlunta-lunta ketika ternyata anaknya tidak mau merawat ketika orangtua memasuki usia lanjut. Anak-anak yang dimanjakan justru menyusahkan orangtua pada saat memasuki usia lanjut.
Anak-anak bentukan keluarga kecukupan justru lebih sering membawa orangtuanya ke panti jompo karena tidak mau direpotkan. Einstein percaya untuk sukses diperlukan lima persen otak, selebihnya adalah memeras keringat alias kerja keras. Spirit kerja keras menjadi motivasi utama mereka yang tidak pernah puas dengan yang telah diraih selama ini.
Kebiasaan menyuapi anak dengan kelimpah ruahan tidak melatih anak merasakan gagal, kecewa, rasa tertekan, rasa konflik atau krisis panjang menyebabkan jiwa getas. Tanpa tempaan stresor jiwa menjadi lembek. Bila tidak berlatih berdamai dengan stres hidup akan gagal andai harus jatuh miskin.
Untuk menjadi kaya orang tidak perlu belajar. Beda halnya untuk menjadi miskin. Tugas guru dan orangtua adalah mengajak anaknya berempati pada kesusahan hidup orang lain. Anak perlu mengalami berbagai macam stresor dalam hidupnya. Jika perlu anak di live in kan dipanti jompo atau panti asuhan agar tahu betapa berharganya kehidupan.
Anak-anak yang tidak bisa menghargai makanan perlu tinggal bersama orang miskin di lembaga- lembaga sosial. Mereka juga perlu diajak mengerti bahwa di sawah satu bulir padi yang jatuh di tanah diambil petani.
Anak-anak perlu diajak belajar kemurahan hati Tuhan untuk belajar berbagi. Dengan variasi stresor anak belajar mengalami berbagai macam tekanan hidup. Anak perlu mengalami seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa dan krisis dalam hidup. Anak juga tidak lantas putus asa ketika mengalami kegagalan.
Bila tidak terbiasa dengan hidup susah, sontekan kecil saja diselesaikan dengan bunuh diri. Menjadi orang kaya dan berkecukupan semua orang tidak perlu belajar. Untuk menikmati kehidupan serba berkecukupan semua orang tidak akan canggung menjalaninya. Namun, untuk menjalani hidup susah kebanyakan orang tidak siap. Mengajarkan prinsip hidup ugahari atau menunda pemuasan adalah keharusan. Dan keluarga merupakan sekolah yang sesungguhnya karena anak-anak menjadi pembelajar kehidupan.
Ugahari berarti menggembleng seseorang ke arah hidup prihatin selain menjunjung tinggi disiplin dan kebenaran. Nilai-nilai kesederhanaan dan kejujuran berakal dari laku prihatin. Orang Jawa mengatakan ilmu iku lelakone ganti lelaku. Artinya, untuk mengejar ilmu yang tinggi harus dijalani dalam kehidupan nyata.
Mengajar anak hidup susah juga perlu diberitahu bahwa dalam hidup uang bukanlah segala- galanya. Tak semua semerbak kehidupan dapat dipuaskan dengan uang. Hanya mereka yang disiapkan dengan baik yang mampu menghadapi ganasnya hidup. Di tengah gugatan pendidikan yang mengabaikan proses mengajarkan hidup susah kepada anak-anak kita membuat mereka lebih bermartabat!










0 komentar:
Posting Komentar