KOTA BEKASI, DemokrasiNews.com - Pameran budaya yang diselenggarakan Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Bekasi mendapatkan teguran keras dari Walikota Bekasi, DR. H. Rahmat Effendi. Pameran budaya itu direncanakan Disporbudpar Kota Bekasi berlangsung dari tanggal 11-13 Desember 2015 dan bertempat di Alun-alun Kota Bekasi.
Walikota Bekasi mengaku kecewa dengan pemilihan tempat pelaksanaan pameran budaya yang diselenggarakan di Alun-alun Kota Bekasi dari tanggal 11-13 Desember 2015. Terlebih lagi alun-alun saat ini memang sedang ada aktivitas pembangunan.
“Saya sangat kecewa dengan cara kordinasi dan pengambilan tempat pelaksanaan kegiatan. Kalau memang di Alun – alun sedang ada renovasi, kan dapat dilakukan di lingkungan kelurahan seperti Kelurahan Pedurenan misalnya. Sehingga tidak terjadi miss komunikasi antar SKPD,” kata DR. H. Rahmat Effendi, Jumat (11/12).
Selain itu Walikota Bekasi mengeluhkan elemen yang dilibatkan dalam pameran budaya ini belum mengakomodir semua komponen masyarakat di Kota Bekasi.
“Kota Bekasi harus dibangun bersama dengan peran budaya dan agama. Ini tentunya yang harus dilakukan pemerintah sebagai pemegang regulasi. Saya berharap ditahun 2016 yang akan datang menjelang HUT Kota Bekasi bisa diciptakan moment penting seperti pawai budaya yang mencerminkan masyarakat yang heterogen dan prulal yang mewakili semua lapisan dan adat istiadat tidak seperti sekarang ini, Keanekaragaman budaya yang ada di Kota Bekasi perlu dihadirkan untuk saling menghormati berdasar agama dan budaya yang ada di Kota Bekasi,” jelasnya.
Disisi lain pada tempat yang sama, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporbudpar), Encu Hermana, menanggapi keluhan yang disampaikan Walikota Bekasi terkait pelaksanaan pameran budaya yang di helat di alun-alun Kota Bekasi dari tanggal 11-13 Desember 2015 yang kurang persiapan serta tidak menampilkan seluruh budaya yang ada di Kota Bekasi.
“Kami akui acara ini memang belum maksimal, kedepan akan kita sertakan budaya luar Kota Bekasi, sesuai dengan pesan Walikota Bekasi,” ucapnya.
Salah satu praktisi budaya bekasi, Andui Setiawan menanggapi kejadian ini, “Saya rasa Kepala Disporbudpar Kota Bekasi harus mau menerima masukan saran dari masyarakat, apalagi dari pimpinannya dan tidak bersikukuh atau monoton dengan apa yang telah dilakukan, dan jangan memunculkan kesan budaya di Kota Bekasi mengeksklusifkan diri, hanya membina yang sudah ada dan tidak menerima kelompok-kelompok budaya yang baru, mudah-mudahan ini menjadi cambukan yang positif untuk melakukan perubahan untuk masyarakat Kota Bekasi.” (BP)
Walikota Bekasi mengaku kecewa dengan pemilihan tempat pelaksanaan pameran budaya yang diselenggarakan di Alun-alun Kota Bekasi dari tanggal 11-13 Desember 2015. Terlebih lagi alun-alun saat ini memang sedang ada aktivitas pembangunan.
“Saya sangat kecewa dengan cara kordinasi dan pengambilan tempat pelaksanaan kegiatan. Kalau memang di Alun – alun sedang ada renovasi, kan dapat dilakukan di lingkungan kelurahan seperti Kelurahan Pedurenan misalnya. Sehingga tidak terjadi miss komunikasi antar SKPD,” kata DR. H. Rahmat Effendi, Jumat (11/12).
Selain itu Walikota Bekasi mengeluhkan elemen yang dilibatkan dalam pameran budaya ini belum mengakomodir semua komponen masyarakat di Kota Bekasi.
“Kota Bekasi harus dibangun bersama dengan peran budaya dan agama. Ini tentunya yang harus dilakukan pemerintah sebagai pemegang regulasi. Saya berharap ditahun 2016 yang akan datang menjelang HUT Kota Bekasi bisa diciptakan moment penting seperti pawai budaya yang mencerminkan masyarakat yang heterogen dan prulal yang mewakili semua lapisan dan adat istiadat tidak seperti sekarang ini, Keanekaragaman budaya yang ada di Kota Bekasi perlu dihadirkan untuk saling menghormati berdasar agama dan budaya yang ada di Kota Bekasi,” jelasnya.
Disisi lain pada tempat yang sama, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporbudpar), Encu Hermana, menanggapi keluhan yang disampaikan Walikota Bekasi terkait pelaksanaan pameran budaya yang di helat di alun-alun Kota Bekasi dari tanggal 11-13 Desember 2015 yang kurang persiapan serta tidak menampilkan seluruh budaya yang ada di Kota Bekasi.
“Kami akui acara ini memang belum maksimal, kedepan akan kita sertakan budaya luar Kota Bekasi, sesuai dengan pesan Walikota Bekasi,” ucapnya.
Salah satu praktisi budaya bekasi, Andui Setiawan menanggapi kejadian ini, “Saya rasa Kepala Disporbudpar Kota Bekasi harus mau menerima masukan saran dari masyarakat, apalagi dari pimpinannya dan tidak bersikukuh atau monoton dengan apa yang telah dilakukan, dan jangan memunculkan kesan budaya di Kota Bekasi mengeksklusifkan diri, hanya membina yang sudah ada dan tidak menerima kelompok-kelompok budaya yang baru, mudah-mudahan ini menjadi cambukan yang positif untuk melakukan perubahan untuk masyarakat Kota Bekasi.” (BP)










1 komentar:
kritik, apalagi dari pimpinan, adalah obat mujarab guna perbaikan. sudah saatnya para pengambil keputusan di Kota Bekasi terbiasa punya gagasan out of box
Posting Komentar