KAB. BIREUEN (Aceh), DemokrasiNews.com - Pemerintah Kabupaten Bireuen peringati maulid akbar yaitu untuk mengenang hari lahirnya Nabi Muhammad SAW di halaman kantor Pemerintahan Kabupaten Bireuen, Cot Gapu, kamis (24/3/2016).
Pada acara tersebut dihadiri Wali Nanggroe, Malek Mahmud Al-Haytar, para Ulama Kharismatik Aceh Abu Tumin Blangbladeh, Abu Usman Kuta krueng, Waled Marhaban, sejumlah ulama lainnya, Wakil Bupati Pidie Jaya, Said Mulyadi SE serta sejumlah tokoh masyarakat di Bireuen.
Dalam sambutannya Bupati Bireuen Ruslan M Daud menyampaikan, “Acara maulid ini yaitu untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan bagi kita yang berlandaskan islam, kami angkat sebagi wadah silaturrahmi.” Paparny
“kami mengajak kepada seluruh masyarakat supaya bahu membahu mengisi pembangunan secara merata, dan masih banyak infrasruktur yang belum kami bangun dari APBD, kepada Kasubdit Pendidikan Diniyah dan Pesantren yang hadir hari ini dapat membantu sarana dan prasarana baik ditingkat diniyah maupun dayah, dengan mengalokasikan dana dari APBA maupun dari pemerintah pusat,” ungkapnya Bupati Ruslan.
Kasubdit Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ahmad Jayadi M.Pd dalam sambutannya menyebutkan, “Tema yang diangkat pada peringatan maulid hari ini sangat menarik, yaitu ‘Bireuen Bersyariat, Kota Santri yang Ahlul Sunnah Waljamaah.”
Lanjutnya, “terkait dengan komitmen Bireuen menjadi kota santri Bireuen, itu bisa menjadi kota santri dan menjadi model bagi daerah lainya. Dengan gagasan kota santri tersebut diharapkan dayah atau pesantren bisa melahirkan kader ulama yang saat ini sudah sangat sedikit, tak hanya di Aceh tapi juga di nusantara. Kita sangat mengapresiasi dan akan mendukung sepenuhnya gagasan bupati Bireuen, maka Bireuen ini akan kita jadikan pasantren Mudi Mesra untuk Aceh sebagai salah satu dayah Nusantara dan bahkan dayah model di Aceh,” sebutnya.
Sementara itu, Wali Naggroe Tgk Malik Mahmud Al-Haytar mengatakan dalam sejarah panjang Aceh abad 15 pada zaman Sultan Ali Muhammadad Syah, maulid sudah dilaksanakan, dan hingga sekarang maulid untuk mengenang hari lahirnya Nabi Muhammad tetap diperingati.
Wali Nanggroe juga menyinggung persoalan tentang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dan narkoba yang marak terjadi di Aceh. “Kita harus mengembalikan masyarakat Aceh yang bermartabat, kepada orang tua marilah menjaga anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa agar menjauhi hal negatif dan buruk seperti LGBT dan narkotika. Dan kepada semua orang tua untuk dapat mengontrol anak dalam semua kegiatanya untuk menjaga aceh lebih baik,” harapnya.
Tgk. H. Azhar Abdullah, MA yang bertindak sebagai penceramah dan dihadiri ribuan orang tamu undangan. (faz)










0 komentar:
Posting Komentar