KAB. TAPSEL (SUMUT), DemokrasiNews.com - Hampir setiap tahun, sejumlah daerah di wilayah Tapanuli Selatan (Tapsel) selalu menjadi ‘langganan’ banjir. Terutama dusun-dusun dan desa yang berada di Kecamatan Angkola Sangkunur. Meski tidak ada korban jiwa, namun ratusan rumah terendam, puluhan keluarga diungsikan akibat luapan air sungai yang sampai ke pemukiman warga dengan ketinggian hingga 2 meter pada Senin (16/5) dini hari.
Senin (16/5) sekitar pukul 11.00 WIB, ratusan rumah yang berada di Dusun Setia Makmur dan Dusun Sibarabara Desa Simataniari tampak masih digenangi air dengan ketinggian mencapai 2 meter. Ratusan warga tampak berkumpul di lokasi yang lebih tinggi dan sebagian lagi ada yang tetap bertahan di kediamannya masing-masing.
Kaharuddin (37) warga Dusun Sibarabara mengatakan, banjir mulai menyerang pemukiman mereka mulai Minggu (15/5) sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu, kondisi cuaca hujan yang sudah dimulai sejak sore hari. Dan Senin (16/5) sekitar pukul 03.00 WIB, intensitas air semakin tinggi hingga mencapai 2 meter dan merendam serta menggenangi kediaman mereka yang rata-rata berbentuk rumah panggung.
“Sebelumnya dari sore hari memang hujan, kondisinya sempat deras dan kemudian sedang namun tidak berhenti. Barulah malam harinya air mulai naik dan menggenangi rumah kami,” ungkap warga dan semenjak sore sebagian warga sudah mengevakuasi keluarganya di kediaman saudara mereka yang tidak terkena banjir.
Kahar mengaku, bencana banjir sudah sangat sering mereka alami. Dan hampir setiap tahun, mereka ‘wajib’ mengalaminya minimal satu kali. Namun untuk banjir kali ini, Kahar mengaku lebih para dari banjir-banjir sebelumnya.
“Memang setiap tahun kami selalu menjadi langganan banjir, tapi kali ini yang terparah,” tukasnya dan terlihat tak panik lagi.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini menceritakan, akibat banjir tersebut, aktivitas mereka yang sehari-hari biasa dilakukan menjadi terganggu. Begitu juga dengan sejumlah hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing dan lainnya dipastikannya sudah hilang atau mati akibat terbawa arus air dan tengggelam.
“Bukan itu saja, kebun-kebun sawit dan sawah kami pun banyak yang rusak,” ucap warga dan mengeluhkan kondisi sawah yang mau dipanen, dipastikan habis diterjang banjir. “Ya, mau bagaimana lagi. Kami hanya bisa pasrah sajalah. Lagian bukan kali ini saja musibah banjir ini kami alami,” keluhnya dan meminta kepada pemerintah Tapsel untuk merespon dan peduli akan kondisi mereka.
Sementara itu, Camat Angkola Sangkunur, M Zein H Ritonga SSos bersama Danramil Siais, Kapten Inf Misran Dalimunthe, yang turun langsung ke lokasi mengatakan, sore hari sebelum banjir itu terjadi, ia sudah lebih dulu mengimbau dan me-‘warning’ warganya untuk waspada.
Pasalnya, kondisi hujan dengan intensitas yang terus menerus terjadi, diprediksinya dapat mengakibatkan terjadinya banjir seperti pengalaman sebelumnya. “Sore harinya saya sudah beritahu warga untuk berhati-hati, dan bagi warga yang rumahnya menjadi langganan banjir agar mengungsi sementara. Dan rupanya benar, apa yang dikhawatirkan pun terjadi,” ungkap Camat yang mendapat kabar telah terjadi banjir di wilayahnya, Senin dini hari.
Hasil pendataan yang dilakukannya bersama petugas TNI dan warga lainnya diketahui, banjir yang terjadi di Desa Simatianiari tepatnya di Dusun Sibarabara, Dusun Setia Baru dan Aek Pardomuan disebabkan curah hujan yang cukup tinggi dan mengakibatkan air sungai Sangkunur dan Batangtoru meluap.
Bukan hanya di Desa Simataniari saja, seorang warga yang rela ‘berbasah-basahan’ dan masuk ke dalam genangan banjir itu juga mengaku, ada beberapa desa dan dusun yang juga mengalami hal serupa di wilayahnya.Seperti di Desa Bandar Tarutung, disana 3 dusun atau lorong dengan jumlah mencapai 100 rumah dan 200 jiwa juga ikut terendam banjir dengan ketinggian mencapai ukuran kurang lebih 150 cm. Dan desa lainnya yaitu Sangkunur Lingkungan I serta Baringin VII.
Begitu juga di Desa Batugodang sebanyak 20 KK mengalami hal serupa.“Yang paling parah di Dusun Sibarabara, Setia Baru Desa Simataniari dan Lorong III serta IV Desa Bandar Tarutung, sampai kini air masih setinggi leher orang dewasa,” urainya sambil melintasi banjir dan membasahi seluruh pakaiannya.
Kondisi tersebut, diakuinya sudah dilaporkannya kepada pihak Pemkab Tapsel dan Dinas terkait. Bahkan untuk langkah awal selain melakukan pendataan dan mengimbau warga untuk mengungsi, bersama petugas kesehatan setempat, pihaknya sudah mendirikan Posko Kesehatan.
“Dan untuk bantuan logisitik dan keperluan lainnya sudah kita lakukan pendataan, dan datanya juga sudah kita berikan kepada pihak atau dinas terkait untuk secepatnya diberikan,” pungkasnya dan terus berada di wilayahnya untuk memonitor kendala serta kondisi yang terjadi. (JanS)











0 komentar:
Posting Komentar