Kabupaten Bekasi, DemokrasiNews - Keluhan para pedagang disepanjang jalan raya lintas pantura dari Pilar Cikarang Utara hingga Kedungwaringin terkait kerugian yang dialami akibat kegiatan galian kabel Perusahan Listrik Negara (PLN) yang kini tengah berlangsung, dirasa sangat memberatkan.
Adalah Uda Haerudin salah seorang pedagang Rumah Makan Nasi Padang yang berada didepan Kecamatan Cikarang Utara yang mengaku sempat mengalami kerugian ketika pekerjaan galian kabel tengah berlangsung didepan tempat dagangnya. Menurutnya, kerugian disebabkan menurunnya pelanggan serta konsumen yang hendak makan ditempatnya itu, karena tidak kebagian lahan parkir kendaraan akibat tanah galian yang berserakan dan tidak teratur.
“Banyak orang yang enggan makan disini mas karena tempat kami terlihat kumuh dan tidak ada lahan untuk parkir, yang ada Cuma gundukan tanah dan lantai yang kotor,” beber Uda yang mengeluhkan pekerjaan galian kabel tidak mengindahkan para pedagang.
Hal yang sama juga diungkapkan Romi salah seorang karyawan rumah makan padang dibilangan jalan raya Lemah Abang depan stasiun kereta api. Menurut Romi, para pekerja galian sembrono meletakkan tanah disembarang tempat, padahal tanah yang berserakan itu dilahan parkir tempatnya bekerja, “Jadi rugi hingga 50% mas karena orang yang hendak makan tidak memiliki tempat untuk parkir kendaraan, tetapi mereka tidak peduli dengan hal ini,” tandas Romi kepada Koran Kita (17/9). Dia meminta pihak pelaksana bertanggungjawab atas kerugian yang dialaminya.
Selain kerugian yang dialami para pedagang, para pengendara yang melintas di jalan itu pun mengeluhkan proyek yang tidak memikirkan dampak lalulintas itu, seperti halnya tanah yang berada hingga diruas jalan raya, membuang air dari selokan ke jalan yang dampaknya ialah jalan didepan Kecamatan Cikarang Utara berlubang dan penuh dengan genangan air.
“Motor Saya sempat tergelincir mas saat lewat, karena jalan jadi licin dan berlubang,” ujar Nana warga Kampung Pilar Barat (17/9).
Pekerjaan milik PLN yang dikerjakan PT Mangun Karya Mandiri itu dipandang masyarakat tidak mengkaji dampak lingkungan dan lalulintas. Hal itu berdasarkan fakta yang terdapat dilapangan.
Salah seorang pekerja galian itu mengaku hanya mengikuti arahan pimpinan, kendati dirinya menyadari dampak dari pekerjaan yang dilakukannya itu mengganggu lingkungan dan merusak jalan, “Kami hanya melaksanakan tugas mas, untuk lebih jelasnya tanyakan saja ke mandor kegiatan,” kilahnya. (Handika Nuralam)









0 komentar:
Posting Komentar