KAB. SUKABUMI (JABAR), DemokrasiNews.com - Waralaba Lotte Mart bekerja sama dengan WWF Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian populasi penyu hijau dengan menggelar acara CSR (Corporate Social Responsibility) bertajuk Turtle Hope.
Wawan Ridwan selaku Direktur Program Coral Triangle WWF indonesia menyatakan Penyu Hijau sudah masuk dalam daftar Red List Data Block di IUCN (Internasional Union for the Conservation of Nature and Natural Resources).
"Populasi Penyu Hijau sudah terancam punah. 70 persen disebabkan karena diburu oleh manusia, sisanya karena seleksi alam," tutur Wawan di Kawasan Konservasi Penyu Pangumbahan, Pantai Ujung Genteng, Sukabumi pada, Jum'at (13/05).
Ia menambahkan dari 1000 tukik (anak penyu) yang lahir, hanya ada satu penyu yang dapat bertahan hidup sampai 250 tahun.
CEO Lotte Mart Indonesia, Jukyang Yoon menyatakan acara ini merupakan bentuk kepedulian Lotte Mart terhadap populasi penyu di Indonesia. "Program Turtle Hope ini adalah bentuk dukungan Lotte Mart kepada wilayah konservasi untuk mendukung proses mulai dari proses perlindungan sampai penetasan habitat penyu hijau," terang Jukyang.
Jukyang berharap melalui acara CSR ini, dapat menunjang wilayah konservasi penyu hijau di Pangumbahan agar populasi penyu hijau dapat terus terjaga dari kepunahan. Berdasarkan data yang dihimpun Demokrasi News, acara ini juga dihadiri oleh Ahman Kurniawan Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD), Konservasi Penyu Pangumbahan Sukabumi, Kepala Seksi Direktorat Konservasi KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), Setiono dan Ketua Kelompok Konservasi Penyu Sukabumi (KKPS), Musonip.
Dan pada kesempatan ini, Wawan juga menambahkan bahwa populasi penyu dapat meningkatkan perekonomian di tiga negara.
"Penyu tergolong sebagai satwa migrasi. Kami pernah melakukan tracking perjalanan migrasi penyu. Hasilnya sangat fantastis," ungkap Wawan lagi.
Hasil pantauan satelit dari penyu yang sudah dipasangkan alat tracking menunjukkan populasi penyu bermigrasi secara acak. "Beberapa penyu kami temukan di Hainan (Tiongkok), Australia, New Zealand, Filipina, Malaysia dan masih banyak lagi," katanya.
Satwa migrasi, sambung Wawan, membuat tidak ada negara yang berhak mengklaim penyu sebagai fauna asli negara tersebut. Namun hal itu tidak serta merta membuat penyu tidak mendapatkan proteksi ditempat dimana mereka singgah.
"Kami bekerja sama dengan dua negara lain yaitu Filipina dan Malaysia yang dipelopori oleh WWF Indonesia agar kita semua masyarakat dunia dapat bersama-sama menjaga populasi penyu," ujar Wawan.
Keuntungannya adalah penyu dapat menghasilkan sesuatu untuk masyarakat ketika ia singgah disuatu tempat. "Misalnya banyak penyu yang datang ke satu daerah, itu kan bisa dimanfaatkan untuk tempat wisata, sama seperti di tempat ini (konservasi Ujung Genteng)," ungkapnya.
Hal Itu disebut sebagai hak ekonomi. Hasil pendapatan dari kedatangan populasi penyu sepenuhnya menjadi milik daerah atau negara tersebut. "Bayangkan kalau ada banyak negara yang disinggahi penyu dan dibuat pariwisata. Bagaimana populasi penyu dapat meningkatkan perekonomian banyak negara," tandasnya.
Penyu Hijau (Chelonia mydas) merupakan salah satu dari 6 jenis penyu yang ada di Indonesia. Fauna langka yang hidup dengan cara bermigrasi ini memiliki siklus hidup yang cukup berat.
"Bisa dikatakan penyu merupakan salah satu hewan yang tidak bertanggung jawab, karena ketika induknya mengeluarkan telur, dia langsung pergi begitu saja," ungkapnya menjawab pertanyaan awak media.
Hal tersebut membuat banyak telur penyu yang baru dikeluarkan terbengkalai yang berimbas pada menurunnya populasi penyu. "Setelah ditinggalkan banyak predator yang datang memburu telur penyu, seperti biawak dan ular. Namun, manusia adalah predator yang paling banyak menyebabkan langkanya populasi penyu," tuturnya.
Hampir seluruh bagian dari tubuh penyu dapat diperjual-belikan. "Dagingnya ada lho yang makan, telurnya apalagi, banyak yang suka. Cangkaknya pun mahal dijadikan sebagai asesoris rumah," kata Wawan.
Selain itu, faktor seleksi alam juga menjadi alasan berkurangnya populasi penyu. "Sudah gede sedikit, kena jaring nelayan. Bisa juga dimakan oleh hiu. Karena faktor itulah membuat populasi penyu terancam punah," imbuhnya.
Oleh karena itu, Wawan kembali menambahkan, wilayah konservasi diperlukan untuk dapat mengawasi dan merawat tukik (anak penyu). Wilayah Konservasi Penyu Pangumbahan, Sukabumi, merupakan salah satu tempat dimana telur penyu dikumpulkan hingga menetas.
Musonip Ketua Kelompok Konservasi Penyu Sukabumi (KKPS) menyatakan pihaknya menyiagakan sebanyak 12 orang dan 3 pengawas di sepanjang 2,3 kilometer garis pantai di wilayah konservasi pantai Ujung Genteng untuk menjaga telur-telur penyu di setiap malam.
"Karena penyu bertelurnya kan malam hari ya, jadi kami membuat 6 pos di sepanjang pantai ini (Ujung Genteng), 1 pos diisi oleh 2 orang. Selain itu ada juga 3 pengawas," ujar Musonip.
Dua orang tersebut akan berkeliling secara bergantian untuk melihat letak dimana induk penyu menaruh telur-telurnya. Lalu setelah induk penyu pergi, telur-telur tersebut langsung diamankan ke wilayah konservasi.
Mengenai berapa penyu yang bertelur dalam sehari di pantai tersebut, Musonip tidak dapat memprediksinya. "Gak tentu mas, kadang gak ada sama sekali. Paling banyak yang kita temukan ada 4 ekor," tutur Musonip mengahiri perbincangan. (A. Zarkasih)














0 komentar:
Posting Komentar