KOTA BEKASI, DemokrasiNews.com - Direktur Rumah Sakit (RS) Ananda, dr. Irwan Heriyanto, MARS dengan didampingi jajaran managemennya, diantaranya, Manager Legal dan sekretariat, Irwan Kusnanda, SH, Manager Humas, Joko Mulyono, S.K.M dan Kabid Penunjang Medis, dr. Febriansyah, telah berkenan menjelaskan terkait kasus beredarnya vaksin palsu di Kota Bekasi yang tengah hangat dibicarakan setelah pengerebekan sebuah rumah di Kemang Pratama oleh pihak berwajib pada beberapa waktu lalu.
Vaksin palsu telah membuat beberapa paramedis angkat bicara. Salah satu pelaku usaha di bidang ini adalah dr. Irwan Heriyanto, MARS. Jabatan yang diembannya sebagai Direktur RS. Ananda Kota Bekasi membuatnya harus sumbang pendapat dan penegasan, karena menyangkut jiwa seseorang. "Kasus produksi dan distribusi vaksin palsu yang dilakukan tersangka Rita (tenaga medis) yang tertangkap membuat kalangan kesehatan terkaget-kaget. Karena itu adalah upaya melemahkan generasi Indonesia yang meski belum terdeteksi dan mengancam nyawa seseorang, namun efeknya sangat berbahaya," tutur Irwan pada, Rabu (29/6) siang.
"Dan kami memastikan peredaran vaksin palsu tidak ada di RS Ananda. Karena pihak managemen kami sangat ketat melakukan pengawasan terkait obat dan lainnya. Vaksin dan obat-obatan di RS Ananda sangat terjamin, karena kami mendapatkan dari distributor resmi dan dari dinas kesehatan. Mutu dan kualitas serta keasliannya sangat valid," ujar Heriyanto kepada Demokrasi News.
Heriyanto menuturkan, kejahatan pembuatan dan mengedarkan vaksin palsu merupakan kejahatan secara masif dan sistemik. "Saya setuju hal ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, karena secara akal sehat tak bisa dinalar seorang anak yang tak berdosa namun dijadikan ajang melakukan dosa untuk meraup keuntungan melalui kejahatan vaksin palsu," ungkapnya.
Terkait dengan berita bahwa tersangka adalah seorang perawat di RS tersebut, Manager Legal dan Sekretariat, Irwan Kusnanda, SH mengungkapkan bahwa ternyata pihak RS tidak mengetahui sepak terjangnya. Catatan terkait data perilaku Rita selama bekerja, Namun tidak ada catatan khusus. "Artinya dalam bekerja standar saja, catatan terkait perbuatan atau kesalahan tidak ada. Namun jika ada berita masalah pengumpulan botol bekas vaksin itu, saya bantah karena selama ini limbah tersebut kita memakai pihak ketiga." ucap Irwan geleng kepala.
"Kita justru mendengarnya dari rekan media, karena selama ini dengan tersangka tidak ada hubungan apa pun. Apalagi sampai tersangka mengumpulkan botol bekas vaksin padahal di RS Ananda limbah itu sudah dikelola oleh Jalan Hijau, sesuai arahan dari Lingkungan Hidup Kota Bekasi," tandasnya.
Selanjutnya limbah suntik maupun bekas obat, kata Irwan, selama seminggu dua kali limbah dibuang di karung kuning. "Kita pilah-pilah mana yang limbah organik atau limbah kimia - B3. Untuk limbah organik kita MoU dengan Dinas Kebersihan. Namun yang jelas Kami dari pihak RS telah menyerahkan pada pengelola Jalan Hijau," terang Irwan lagi.
Ketika disinggung bahwa RS Swasta cenderung telah menjadi ajang bisnis dan bukan rahasia umum lagi, Direktur RS Ananda, dr Irwan Heriyanto, MARS langsung menyela dengan protes bahwa pihak managemennya punya kerjasama dengan MoU nota kesepahaman dengan BPJS, JKN dan dengan Jamkesda. "Saya pikir itu salah satu bentuk CSR-nya Rumah Sakit dan mempunyai konstibusi terhadap masyarakat luas, seperti itu," terangnya.
Bakti Sosial (Baksos) telah digerakkan melalui kerjasama dengan Dispera Kota Bekasi. Dan belum lama ini telah dilakukan Penyuluhan Kesehatan terhadap petugas pasar dengan mengandeng Baznas dan masyarakatt antusias yang hadir dan berdatangan. Karena sebagian masyarakat apriori untuk ke puskesmas.
Kalau bicaranya Vaksin dan pasiennya memang benar-benar orang tidak mampu dan tidak punya uang, pihak RS Ananda akan membantu. "Pasien yang datang kalau memang betul-betul karena himpitan ekonomi pasti kita bantu pak," tandas Heriyanto menutup pertemuan. (A. Zarkasih)










0 komentar:
Posting Komentar